Dalam usaha membangun dunia, gagasan-gagasan modernitas ternyata terlalu menuntut pengorbanan di relung kultural dan ekologis planet ini. Asumsi-asumsi dan metode-metode yang diidealkan sama sekali berlainan dengan apa yang dipraktekkan. Rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara yang berpolusi di India atau penjarahan cagar alam di Brazil adalah fenomena-fenomena lokal yang mempunyai dampak luas, sebagaimana tampak pada fenomena pemanasan iklim di bumi.
Pun-demikian dengan rencana eksploitasi kawasan kars pegunungan kendeng. Rencana tersebut nyata sekali mengedepankan kepentingan ekonomis yang semu dan mengorbankan relung kultural dan ekologis. Selama ini, dalam upaya untuk mempengaruhi opini masyarakat -agar menerima kehadiran pabrik semen- baik pihak Pemerintahan setempat maupun PT Semen Gresik (Persero), Tbk, selalu menggunakan janji kesejahteraan. Kehadiran pabrik semen diilusikan akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat.
Jika dicermati, janji mengenai kesejahteraan yang dimaksud kerap diindikasikan dari jumlah tenaga kerja yang akan direkrut oleh PT Semen Gresik (Persero), Tbk. Dalam sosialisasi yang diadakan pada tanggal 16 Oktober 2008, PT Semen Gresik (Persero), Tbk memaparkan rincian tenaga kerja yang akan terserap selama Konstruksi adalah + 2000 orang dan selama operasi adalah + 1000 orang meliputi tenaga internal dan tenaga eksternal (jasa angkutan semen, jasa kontruksi dll)
Jumlah tenaga kerja yang dapat terserap dalam rencana ini jauh dari jumlah tenaga kerja yang terserap jika 2000 ha lahan yang ada di Pegunungan Kendeng tetap menjadi lahan pertanian. Dengan catatan bahwa separuh dari pekerjaan dilakukan sendiri oleh pemilik lahan, tiap hektar dari lahan persawahan mampu menyerap 146 orang tenaga kerja pada sekali musim tanam, dengan rincian:
Pertanyaannya kemudian adalah ”Benarkah jika pabrik semen nanti berdiri mampu menampung tenaga kerja banyak dan bisa mengurangi pengangguran?” Jawabannya tentu TIDAK, bahkan justru akan menambah jumlah pengangguran di masyarakat. Sebab jumlah tenaga kerja yang terserap dalam rencana ini tidak sebanding dengan jumlah tenaga kerja yang dapat ditampung dalam lahan pertanian yang akan dikonversi. Demikianlah barangkali kita perlu memikirkan ulang tentang tentang konsep kemakmuran.







